Oleh: Lora Usman Hasan Al-Akhyari
Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa Nahdlatul Ulama senantiasa tumbuh dan berkembang di atas pondasi tradisi pesantren, transmisi sanad keilmuan dan pengkajian kitab turats.
Kitab turats bukanlah sekadar kumpulan teks klasik atau artefak sejarah masa lampau, tapi ia adalah basis epistemologi, budaya ilmiah, dan ruh identitas jam’iyah NU itu sendiri.
Di tengah arus globalisasi yang kian massif, NU dihadapkan pada tantangan besar, mulai dari digitalisasi pengetahuan, komersialisasi pendidikan, dekadensi moral di kalangan pemuda, langkanya figur keulamaan yang zuhud, hingga pergeseran pola belajar generasi muda.
Oleh karena itu, Muktamar NU ke-35 pada tahun 2026 yang diselenggarakan di PP. Tambakberas ini menjadi momentum yg sangat strategis untuk memetakan dan sekaligus memperkuat lanskap ekosistem dimana turats ulama Nusantara harus bertahan.

Rangkaian acara “Turots di Muktamar”, sebagai wujud khidmah Nahdlatut Turots di ajang Muktamar NU ke-35, meliputi kegiatan pameran manuskrip, daurah, halaqoh, ijazah-sanad dan aurod, hingga seminar, merupakan langkah nyata untuk mempreservasi, mengatalogkan, dan men-tahqiq aset peradaban berharga tersebut.
Namun, ikhtiar mulia ini tidak akan terwujud secara optimal tanpa partisipasi aktif dari akarnya. Sangat mendesak bagi seluruh elemen masyarakat pesantren (kiai, santri, akademisi, dan pegiat literasi) untuk memberikan dukungan penuh serta mengambil peran nyata dalam agenda semacam yang digagas oleh Nahdlatut Turots ini.
Keterlibatan warga pesantren, khususnya warga NU adalah kunci utama untuk memastikan keberlangsungan dan kelestarian khazanah keilmuan ini di masa depan. Penguatan ekosistem turats mutlak dibutuhkan demi menjamin kesinambungan jati diri jam’iyah di tengah dinamika kontemporer.
Untuk itu, tak berlebihan kiranya jika kita kemudian berupaya maksimal agar turots, warisan intelektual ulama Nusantara, ini tetap hidup dan menjadi lentera peradaban hingga akhir masa.