
Oleh: Ahmad Karomi
Hari Jumat kemarin tepat pada tanggal 24 Oktober 2025, saya berkesempatan bisa hurmat rangkaian acara 2 abad Tambakberas di Aula Muallimin Muallimat bersama Mas Azro dan Ustad Kholilurrahman dalam diklat tahqiqutturots. Tujuan utama adalah mengajak generasi muda meningkatkan gerakan tahqiqutturots.
Rampung acara, kami bersiap untuk melaksanakan shalat Jumat yang kebetulan saya sendiri juga belum pernah tahu akan shalat Jumat di masjid mana.
Berbekal informasi dari Gus Rifan Nasir kami pun ditunjukkan ke masjid terdekat, tanpa ada penjelasan sedikit pun tentang masjid tersebut.
Saya, Gus Najib, Gus Ifdol, Mas Azro, ustad Kholilurrahman dan Mas Hammad berjalan kaki menuju masjid yang dimaksud oleh Gus Rifan.
Setibanya di masjid, saya merasa tidak asing dengan masjid itu. Beberapa keganjilan dalam hati menyeruak: ini masjid kuno tapi koq terkesan diabaikan, tidak direnovasi, tempat wudhunya, kamar mandinya kurang diperhatikan, dst.
Saya masuk ke dalam masjid dan ternyata memang aura magisnya sangat kuat. Seolah memasuki ruangan penuh sejarah yang menyimpan nuansa tempo doeloe.
Setelah shalat Jumat, kami pun bertanya kepada Gus Rifan dan dijelaskan bahwa masjid tersebut peninggalan Kiai Abdussalam berjuluk Mbah Soichah/Mbah Kiai Sechah, yang kemudian dilanjutkan menantunya bernama KH. Usman, lalu dilanjutkan oleh cucu menantu yang bernama KH. Asyari, ayah KH. Hasyim Asyari untuk mengajar pengajian di masjid tersebut.
“Berarti Mbah Hasyim kelahiran mriki?”, tanya Gus Najib.
“Iya, di pondok nggedang, dan ngajinya ya di masjid tersebut“, jawab Gus Rifan.
“Masjid itu tidak ada yang berani merenovasi total, sebab merupakan situs bersejarah bagi pesantren Tambakberas dan Tebuireng. Secara usia, Tambakberas lebih tua daripada Tebuireng, Peterongan, dan Denanyar“
Saya yang menyimak keterangan itu tiba-tiba teringat masjid Muning Kediri yang juga memiliki kaitan erat dengan KH. Hasyim Asyari.
Masjid Muning Kediri

Masjid Muning yang terletak di dekat perempatan Muning adalah masjid yang dibangun oleh KH. Romli Banjarmlati sebagai rasa syukur memiliki menantu KH. Hasyim Asyari.
Perlu diketahui bahwa KH. Romli merupakan kakak kandung dari KH. Soleh Banjarmlati. Keduanya adalah Kiai yang kaya raya dan merupakan simpul para ulama wilayah Kediri dan sekitarnya.
Jika KH. Soleh Banjarmlati memiliki menantu ampuh seperti KH. Maruf, Kedunglo, KH. Mansur bin KH Abu Mansur Kalipucung Blitar, KH. Abdul Karim Lirboyo, KH. Fadil Batokan, KH. Dahlan Jampes, maka KH. Romli memiliki menantu KH. Hasyim Asyari dan KH. Muharrom Karangkates bin KH. Abu Mansur Blitar. Hanya saja KH. Hasyim Asyari tidak memiliki keturunan dari putri KH. Romli.
Saya mencoba sowan ke KH. Muhaimin Karangkates, cucu KH. Muharrom untuk menanyakan nama istri KH. Hasyim, beliau kurang mengerti. Hanya mashur dikenal Nyai Muning. Lalu beberapa tahun yang lalu saya sowan ke KH. Anwar Mansur juga tidak tahu nama asli dari Nyai Muning tersebut.
Beberapa catatan seputar biografi KH. Hasyim Asyari yang ditulis Akarhanaf, Solichin Salam, Aboe Bakar Atjeh, Choirul Anam, hingga saat saya bertanya kepada alm. Gus Zakki dan Gus Kikin tidak seragam dalam menyebutkan nama istri KH. Hasyim yang dari Muning ini. Ada yang menyebutkan Nyai Khodijah, dan Nyai Nafisah.
Saya coba mengidentifikasi, nama Nyai Khodijah sangat identik dengan Khodijah binti KH. Yaqub Panji (istri pertama). Kemudian menurut info Gus Zakki, istri kedua bernama Nyai Nafisah itu berasal dari Panji namun tidak bertahan lama sebab Nyai Nafisah masih sangat muda.
Lantas jika demikian, siapakah nama istri KH. Hasyim yang berasal dari Muning? Analisa sementara, bisa jadi ada dua nama yang sama: Khadijah binti KH. Romli atau Nafisah binti KH. Romli. Kejelasan nama istri KH. Hasyim Asyari yang merupakan putri KH. Romli masih samar.