{"id":2306,"date":"2026-08-31T16:17:34","date_gmt":"2026-08-31T09:17:34","guid":{"rendered":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/?p=2306"},"modified":"2026-09-01T04:32:36","modified_gmt":"2026-08-31T21:32:36","slug":"membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/","title":{"rendered":"Membaca Keunikan Karya Terbaru Kiai Miftachul Akhyar: al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah"},"content":{"rendered":"<p><\/p><p><strong>Oleh: Dr. K.H. Muhammad Afifuddin Dimyathi, Lc., M.A.<\/strong><\/p><p><\/p><p>Kehadiran <em>al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah<\/em> karya Kiai Miftachul Akhyar semakin memperkaya khazanah \u201ccatatan kaki\u201d yang ditulis oleh para ulama terdahulu dalam rangka meresepsi dan mengapresiasi Kitab Jurumiyah karya Ibn Ajurrum. Syarah yang beliau tulis pun tergolong unik, sebab tidak sekadar membedah matn Jurumiyah dari aspek kebahasaan, melainkan menganalisisnya pula dari sisi tasawuf.<\/p><p><\/p><p>Tidak berlebihan kiranya bila <em>al-Fathah al-Rabbaniyyah<\/em> karya Kiai Miftach ini digolongkan ke dalam al-turats al-islami yang ber-genre nahwu sekaligus tasawuf. Kalam-kalam hikmah Syekh Ibn \u2018Atha\u2019illah al-Sakandari misalnya, hampir menyertai setiap \u201cpenjelasan sufi\u201d (<em>al-idhah al-shufi al-isyari<\/em>) yang ditulis oleh Kiai Miftach, sehingga ngaji al-Fathah al-Rabbaniyyah serasa ngaji Jurumiyah plus al-Hikam al-\u2018Atha\u2019iyaah.\u00a0<\/p><p><\/p><p>Lebih menariknya lagi, di balik kemegahan <em>al-Fathah al-Rabbaniyyah<\/em>, kita akan menemukan dawuh-dawuh Kiai Miftach bernuansa sosial-religius. Dawuh-dawuh tersebut seolah menyoroti fenomena sosial-keagamaan umat Islam di Indonesia di satu sisi dan merekam kegelisahan Kiai Miftach di sisi lain. Berikut di antara cuplikannya.<\/p><p><\/p><figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"457\" src=\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_el26tlel26tlel26.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2308\" srcset=\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_el26tlel26tlel26.png 800w, https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_el26tlel26tlel26-300x171.png 300w, https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_el26tlel26tlel26-768x439.png 768w, https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_el26tlel26tlel26-600x343.png 600w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Rutinan pengajian KH. Miftachul Akhyar secara online di kanal Multimedia KH. Miftachul Akhyar<\/em><\/figcaption><\/figure><p><\/p><p><strong>Harakat Kasrah Sebagai Tanda I\u2018rab Jer: Dari Ibadah Ritual Hingga Ibadah Sosial<\/strong><\/p><p><\/p><p>Harakat kasrah dalam nomenklatur tasawuf berarti al-inkisar, yakni perasaan \u201cremuk\u201d, \u201cpatah\u201d, dan \u201chancur berkeping-keping\u201d yang dialami oleh seorang hamba dalam laku batinnya menuju Allah. Perasaan ini, menurut Kiai Miftach, menjadi tanda ketawadukan hakiki dalam tiga hal. <\/p><p><\/p><p><strong>Pertama<\/strong>, tersibukkannya seorang hamba dengan mengingat Allah (<em>al-isytighal bi dzikrillah<\/em>); dan dzikir yang paling agung adalah mengingat-ingat dan menyebut-nyebut <em>al-ism al-mufrad<\/em> yang tidak lain yaitu Allah. Setelah menerangkan faedah dan kekhususan nama Allah, Kiai Miftach menuliskan:<\/p><p><em>Tidak apa-apa dzikir dengan lafal jalalah\u2014Allah.. Allah..\u2014karena lafal itu adalah lafal tunggal, \u2018alam, dan difungsikan secara korelasional sebagai penunjuk adanya zat yang wajibil wujud, disifati dengan aneka sifat (kesempurnaan), dan disucikan dari aneka sifat kekurangan\/keburukan. Demikian pula, tidak apa-apa dzikir dengan lafal \u201cYa Huw(a)\u201d karena hal itu merupakan puncak ketauhidan. (Lafal-lafal dzikir seperti) itu tidaklah termasuk bid\u2018ah. Dalam dzikir, yang terpenting adalah kehadiran hati bersama Allah \u2018Azza Wa Jalla, Wallahu Ta\u2018ala A\u2018lam.<\/em><\/p><p><\/p><p><strong>Kedua<\/strong>, berkumpul bersama para wali (kekasih Allah). Dengan kata lain, jamak taksir munsharif dalam konteks pemaknaan shufi-isyari merujuk kepada mereka, sebab merekalah hamba-hamba Allah yang sejati, yang benar-benar telah menginternalisasi sikap tawaduk, khusyuk, dan patuh kepada Allah.<\/p><p><\/p><p><strong>Ketiga<\/strong>, mengamalkan kesunahan dan menjaga agamanya dengan cara \u201cberkumpul\u201d dengan perempuan, yakni dengan cara menikah, asalkan ia mampu selamat\/terbebas dari kemudaratan pernikahan. Kiai Miftach menjelaskan lebih lanjut alasan di balik pemaknaan jamak mu\u2019annats salim dengan pernikahan dalam konteks shufi-isyari ini. <\/p><p><\/p><p>Beliau menuliskan:<\/p><p><em>Sebab, ketawadukan seorang hamba dan keindahan akhlaknya tidak akan (benar-benar) tampak kecuali (saat) bersama keluarga (pasangan) dan anak-anaknya. Oleh karenanya, Nabi SAW bersabda, \u201cSebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik kepada istri-istrinya; dan aku adalah orang yang paling baik kepada istri-istriku.\u201d Allah Maha Pemberi pertolongan.<\/em><\/p><p><\/p><p>Jika tiga tanda ketawadukan hakiki di atas dirunut, maka akan membentuk dua pola dimensi ibadah, yaitu ritual dan sosial. Tanda pertama (mengingat Allah) berdimensi ritual, tanda kedua (berkumpul bersama para kekasih Allah) berdimensi ritual dan sosial, dan tanda ketiga (pernikahan) berdimensi sosial. <\/p><p><\/p><p>Pemaknaan ini menarik sebab selaras dengan ruh ajaran Islam yang bukan saja menekankan pentingnya seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah melalui aneka ibadah ritual seperti shalat, puasa, membaca Al-Qur\u2019an, dan memperbanyak shalawat, namun juga menegaskan keniscayaan mendekatkan diri kepada-Nya melalui aneka ibadah sosial seperti menyisihkan sebagian harta untuk fakir-miskin, menyantuni anak yatim, dan lain sebagainya.<\/p><p><\/p><p><strong>Sebab Umat Islam Hari Ini Menjadi Buih<\/strong><\/p><p><\/p><p>Persoalan ini disinggung oleh Kiai Miftach saat menerangkan definisi dan ciri-ciri mudhari\u2018. Seperti kita ketahui, Ibn Ajurrum mendefinisikannya sebagai kata kerja yang pada permulaannya terdapat salah satu dari empat huruf; empat huruf tersebut terhimpun dalam sebuah ungkapan \u201canaytu\u201d (alif, nun, ya\u2019, dan ta\u2019). Kata kerja jenis ini selalu berstatus rafa\u2019 kecuali terkontaminasi oleh \u2018amil nashib atau jazim.<\/p><p><\/p><p>Pada konteks shufi-isyari, menurut Kiai Miftach, <em>mudhari\u2018<\/em> berarti orang yang berupaya menyerupai para kekasih Allah namun di dalam hatinya masih terdapat salah satu dari empat aib atau sifat tercela yaitu cinta dunia, cinta kemuliaan (gila hormat), takut kepada makhluk, dan prihatin terhadap urusan rezeki. Keempat sifat tercela ini terhimpun dalam satu sifat, yaitu rida kepada hawa nafsu sebab ialah yang menjadi asal muasal segala bentuk kemaksiatan, kelalaian, dan syahwat.<\/p><p><\/p><p>Orang yang berupaya menyerupai para kekasih Allah, lanjut Kiai Miftach, selamanya akan berstatus mulia (<em>marfu\u2018 abadan)<\/em> karena barang siapa mencintai suatu kaum niscaya kelak akan dikumpulkan bersama mereka dan barang siapa mengenakan \u201cpakaian\u201d suatu kaum niscaya ia termasuk bagian dari mereka. Status mulia ini akan senantiasa ia sandang selama ia benar-benar bergabung dalam barisan dan lelaku batin-spiritual mereka, para kekasih Allah itu.&nbsp;<\/p><p><\/p><p>Status tersebut akan hilang jika ia terkontaminasi oleh \u2018<em>amil nashib<\/em>, yaitu sesuatu (cinta dunia) yang menggerakannya untuk mencari dunia, atau \u2018amil jazim, yaitu sesuatu yang membuatnya berbalik arah sehingga tidak lagi fokus mencari Sang Maha Pelindung (thalab al-mawla). Jika salah satu dari dua \u2018amil ini telah bercokol di dalam hatinya, maka ia akan meninggalkan \u201cpergaulan\u201d bersama sang guru dan para kekasih Allah. Bila sudah seperti ini, konsekuensinya adalah status kemuliaannya terjatuh sehingga ia pun kembali ke derajat awam dan kering\/buih\/sampah (<em>maqam al-\u2018umumiyyah wa al-gutsa\u2019iyyah<\/em>).<\/p><p><\/p><p>Kemudian Kiai Miftach menggambarkan keadaan derajat \u201cbuih\u201d itu dengan mengutip hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud. Nabi bersabda:<\/p><p><\/p><p><em>\u201cHampir saja umat-umat itu mengerumuni kamu, sebagaimana orang-orang yang mau makan mengerumuni hidangannya.\u201d Lalu seseorang bertanya, \u201cApakah pada waktu itu karena jumlah kami yang sedikit?\u201d Nabi SAW menjawab, \u201cTidak, bahkan pada waktu itu jumlah kamu banyak, tetapi kamu bagaikan buih di air bah. Allah benar-benar akan mencabut dari dada musuhmu rasa takut kepadamu. Dan Allah benar-benar akan melemparkan rasa lemas di hatimu.\u201d Kemudian seseorang bertanya, \u201cWahai Rasulullah, apakah kelemahan di hati itu?\u201d Nabi menjawab, \u201cCinta dunia dan takut mati.\u201d<\/em><\/p><p><\/p><p>Setelah mengutip hadis di atas, Kiai Miftach menuliskan keprihatinannya terhadap keadaan umat Islam. Beliau menulis:<\/p><p><\/p><p class=\"has-text-align-right\">\u0641\u064a\u0627 \u062a\u0631\u0649 \u0645\u0627 \u0647\u0648 \u0633\u0628\u0628 \u0627\u0644\u063a\u062b\u0627\u0626\u064a\u0629 \u0627\u0644\u062a\u064a \u062c\u062b\u0645\u062a \u0639\u0644\u0649 \u0642\u0644\u0628 \u0627\u0644\u0623\u0645\u0629 \u0627\u0644\u064a\u0648\u0645 \u0628\u0639\u062f\u0645\u0627 \u0643\u0627\u0646\u062a \u0623\u0645\u0629 \u0627\u0644\u0625\u0633\u0644\u0627\u0645 \u0645\u0644\u0621 \u0627\u0644\u0633\u0645\u0639 \u0648\u0627\u0644\u0628\u0635\u0631\u061f<\/p><p class=\"has-text-align-right\">\u0625\u0646 \u0627\u0644\u0623\u0633\u0628\u0627\u0628 \u0647\u064a \u0645\u0646 \u0642\u0650\u0628\u064e\u0644\u0650\u0646\u0627 \u0646\u062d\u0646 \u0627\u0644\u0645\u0633\u0644\u0645\u064a\u0646\u060c \u063a\u064a\u0631\u0646\u0627 \u0641\u063a\u064a\u0631\u0646\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0648\u0627\u0628\u062a\u0639\u062f\u0646\u0627 \u0639\u0646 \u0634\u0631\u0639 \u0631\u0628\u0646\u0627 \u0641\u062e\u064f\u0630\u0644\u0646\u0627 \u0648\u0627\u0639\u062a\u0645\u062f\u0646\u0627 \u0639\u0644\u0649 \u063a\u064a\u0631\u0647 \u0641\u0648\u0643\u0644\u0646\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0644\u0623\u0646\u0641\u0633\u0646\u0627<\/p><p class=\"has-text-align-right\">\u0648\u0625\u0646 \u0645\u0646 \u0622\u0643\u062f \u0623\u0633\u0628\u0627\u0628 \u0627\u0644\u063a\u062b\u0627\u0626\u064a\u0629 \u0627\u0644\u062a\u064a \u0646\u0631\u0627\u0647\u0627 \u0641\u064a \u0627\u0644\u0623\u0645\u0629 \u0627\u0644\u062e\u0644\u0644 \u0627\u0644\u0627\u0639\u062a\u0642\u0627\u062f\u064a \u0648\u0627\u0644\u0627\u0646\u0643\u0628\u0627\u0628 \u0639\u0644\u0649 \u0627\u0644\u062f\u0646\u064a\u0627 \u0648\u0627\u0644\u0627\u0646\u0634\u063a\u0627\u0644 \u0628\u0647\u0627 \u0633\u0628\u0628 \u0645\u0646 \u0623\u0633\u0628\u0627\u0628 \u063a\u062b\u0627\u0626\u064a\u0629 \u0627\u0644\u0623\u0645\u0629 \u062d\u064a\u0646\u0645\u0627 \u0645\u0644\u0623 \u062d\u0628\u064f\u0651\u0647\u0627 \u0627\u0644\u0642\u0644\u0648\u0628 \u0641\u0635\u0627\u0631\u062a \u0644\u0623\u062c\u0644\u0647\u0627 \u064a\u0639\u0627\u062f\u064a \u0648\u0641\u064a \u0633\u0628\u064a\u0644\u0647\u0627 \u064a\u0648\u0627\u0644\u064a \u0648\u0631\u0628\u0645\u0627 \u0631\u0623\u064a\u062a \u0645\u0646 \u0628\u0627\u0639 \u0628\u0644\u062f\u0647 \u0648\u062e\u0630\u0644 \u0642\u0648\u0645\u0647 \u0644\u0623\u062c\u0644 \u0645\u0646\u0635\u0628 \u0623\u0648 \u0645\u0627\u0644\u060c \u0641\u0623\u062d\u0628 \u0627\u0644\u0646\u0627\u0633\u064f \u0627\u0644\u062f\u0646\u064a\u0627 \u0648\u0643\u0631\u0647\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0645\u0648\u062a \u0628\u0639\u062f\u0645\u0627 \u0643\u0627\u0646 \u0627\u0644\u0645\u0633\u0644\u0645\u0648\u0646 \u064a\u062d\u0628\u0648\u0646 \u0627\u0644\u0645\u0648\u062a \u0641\u064a \u0633\u0628\u064a\u0644 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0643\u0645\u0627 \u064a\u062d\u0628 \u0627\u0644\u0643\u0641\u0627\u0631 \u0627\u0644\u062d\u064a\u0627\u0629<\/p><p><\/p><p><em>Oh aduhai, lihatlah! Apakah gerangan yang menyebabkan keterbuihan yang menggerogoti hati umat Islam hari ini setelah sebelumnya mereka (mulia, gagah perkasa, seolah) memenuhi pendengaran dan penglihatan?<\/em><\/p><p><\/p><p><em>Sesungguhnya sebab-sebab itu berasal dari diri kita sendiri, kaum muslimin. Kita berubah, maka Allah pun mengubah (keadaan) kita; kita menjauh dari syariat Tuhan Pemelihara kita, maka kita pun terhina; dan kita berpedoman pada selain-Nya, maka Allah memasrahkan kita pada diri kita sendiri.<\/em><\/p><p><\/p><p><em>Sungguh, di antara faktor krusial keterbuihan yang kita lihat menggerogoti umat Islam hari ini ialah kecacatan\/kerusakan akidah dan sibuk dengan duniawi. Sibuk dengan duniawi merupakan salah satu sebab keterbuihan umat ketika kecintaan pada dunia telah memenuhi hati, sehingga gara-gara perkara duniawi saling bertengkar dan demi memperolehnya saling berkawan. Bahkan boleh jadi engkau melihat seseorang yang menjual negara dan menghinakan kaumnya (rakyatnya) demi sebuah jabatan atau harta. Umat Islam pun pada akhirnya mencintai dunia dan membenci kematian setelah sebelumnya mereka mencintai kematian di jalan Allah sebagaimana orang-orang kafir mencintai kehidupan<\/em>.&nbsp;<\/p><p><\/p><p><strong>Penutup<\/strong><\/p><p><\/p><p>Keunikan karya terbaru Kiai Miftach, <em>al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah, <\/em>bukan saja terletak pada kontennya yang memuat dua disiplin ilmu sekaligus, nahwu dan tasawuf. Lebih dari itu, karya tersebut juga menjadi wadah ejawantah kepribadian sosok penulisnya yang memiliki kepekaan tinggi dan perhatian serius terhadap problem-problem sosial-keagamaan, khususnya yang dirasakan oleh kaum muslimin di Indonesia.<\/p><p><\/p><p><em>Al-Fathah al-Rabbaniyyah<\/em>, dengan demikian, secara tidak langsung meluruskan anggapan keliru sebagian kalangan yang memandang tasawuf dan sufi sebagai bidang ilmu dan tokoh yang duduk di menara gading, eksklusif, dan tidak menghiraukan problem-problem aktual yang dirasakan oleh umat manusia. <em>Wallahu a\u2018lam bish-shawab.<\/em><\/p><p><\/p><figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"800\" src=\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_c7eezlc7eezlc7ee.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2307\" style=\"width:96px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_c7eezlc7eezlc7ee.png 800w, https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_c7eezlc7eezlc7ee-300x300.png 300w, https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_c7eezlc7eezlc7ee-150x150.png 150w, https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_c7eezlc7eezlc7ee-768x768.png 768w, https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_c7eezlc7eezlc7ee-600x600.png 600w, https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_c7eezlc7eezlc7ee-100x100.png 100w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Dr. KH. Afifuddin Dimyati, Lc. M.A<br>Pengasuh Ribath Hidayatul Quran PP. Darul Ulum Jombang, Dewan Pembina Nahdlatutturots<\/em> <em>dan Ihya Turots Ulama Nusantara<\/em><\/figcaption><\/figure><p><\/p><p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. K.H. Muhammad Afifuddin Dimyathi, Lc., M.A. Kehadiran al-Fathah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2309,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[1,8,160,6],"tags":[],"class_list":["post-2306","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-pemikiran","category-refleksi","category-resensi-kitab"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v24.3 (Yoast SEO v24.3) - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Membaca Keunikan Karya Terbaru Kiai Miftachul Akhyar: al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah - Nahdlatutturots Online<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Membaca Keunikan Karya Terbaru Kiai Miftachul Akhyar: al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Dr. K.H. Muhammad Afifuddin Dimyathi, Lc., M.A. Kehadiran al-Fathah...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Nahdlatutturots Online\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/nahdlatutturots\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-31T09:17:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-08-31T21:32:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_hmqjqlhmqjqlhmqj-e1788167324364.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"412\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ahmad Karomi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ahmad Karomi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/\"},\"author\":{\"name\":\"Ahmad Karomi\",\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#\/schema\/person\/5cc62e4ae84508c7b77ab27717ae6296\"},\"headline\":\"Membaca Keunikan Karya Terbaru Kiai Miftachul Akhyar: al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah\",\"datePublished\":\"2026-08-31T09:17:34+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-31T21:32:36+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/\"},\"wordCount\":1246,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_hmqjqlhmqjqlhmqj-e1788167324364.png\",\"articleSection\":[\"Artikel\",\"Pemikiran\",\"Refleksi\",\"Resensi Kitab\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/\",\"url\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/\",\"name\":\"Membaca Keunikan Karya Terbaru Kiai Miftachul Akhyar: al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah - Nahdlatutturots Online\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_hmqjqlhmqjqlhmqj-e1788167324364.png\",\"datePublished\":\"2026-08-31T09:17:34+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-31T21:32:36+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_hmqjqlhmqjqlhmqj-e1788167324364.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_hmqjqlhmqjqlhmqj-e1788167324364.png\",\"width\":800,\"height\":412},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Membaca Keunikan Karya Terbaru Kiai Miftachul Akhyar: al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#website\",\"url\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/\",\"name\":\"Nahdlatutturots Online\",\"description\":\"Menghidupkan Naskah, Memahami Sejarah\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#organization\",\"name\":\"Nahdlatutturots Online\",\"url\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/logo-nt-3.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/logo-nt-3.png\",\"width\":916,\"height\":264,\"caption\":\"Nahdlatutturots Online\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/nahdlatutturots\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#\/schema\/person\/5cc62e4ae84508c7b77ab27717ae6296\",\"name\":\"Ahmad Karomi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/97e53788cbc02b3dfb70c55dfa569ba7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/97e53788cbc02b3dfb70c55dfa569ba7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Ahmad Karomi\"},\"description\":\"Pegiat turots, sekarang tinggal di Surabaya\",\"url\":\"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/author\/karomi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Membaca Keunikan Karya Terbaru Kiai Miftachul Akhyar: al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah - Nahdlatutturots Online","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Membaca Keunikan Karya Terbaru Kiai Miftachul Akhyar: al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah","og_description":"Oleh: Dr. K.H. Muhammad Afifuddin Dimyathi, Lc., M.A. Kehadiran al-Fathah...","og_url":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/","og_site_name":"Nahdlatutturots Online","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/nahdlatutturots","article_published_time":"2026-08-31T09:17:34+00:00","article_modified_time":"2026-08-31T21:32:36+00:00","og_image":[{"width":800,"height":412,"url":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_hmqjqlhmqjqlhmqj-e1788167324364.png","type":"image\/png"}],"author":"Ahmad Karomi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Ahmad Karomi","Estimasi waktu membaca":"8 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/"},"author":{"name":"Ahmad Karomi","@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#\/schema\/person\/5cc62e4ae84508c7b77ab27717ae6296"},"headline":"Membaca Keunikan Karya Terbaru Kiai Miftachul Akhyar: al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah","datePublished":"2026-08-31T09:17:34+00:00","dateModified":"2026-08-31T21:32:36+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/"},"wordCount":1246,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_hmqjqlhmqjqlhmqj-e1788167324364.png","articleSection":["Artikel","Pemikiran","Refleksi","Resensi Kitab"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/","url":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/","name":"Membaca Keunikan Karya Terbaru Kiai Miftachul Akhyar: al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah - Nahdlatutturots Online","isPartOf":{"@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_hmqjqlhmqjqlhmqj-e1788167324364.png","datePublished":"2026-08-31T09:17:34+00:00","dateModified":"2026-08-31T21:32:36+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#primaryimage","url":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_hmqjqlhmqjqlhmqj-e1788167324364.png","contentUrl":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gemini_Generated_Image_hmqjqlhmqjqlhmqj-e1788167324364.png","width":800,"height":412},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/membaca-keunikan-karya-terbaru-kiai-miftachul-akhyar-al-nafhah-al-rabbaniyyah-ala-al-muqaddimah-al-ajurrumiyyah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Membaca Keunikan Karya Terbaru Kiai Miftachul Akhyar: al-Fathah al-Rabbaniyyah \u2018ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#website","url":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/","name":"Nahdlatutturots Online","description":"Menghidupkan Naskah, Memahami Sejarah","publisher":{"@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#organization","name":"Nahdlatutturots Online","url":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/logo-nt-3.png","contentUrl":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/logo-nt-3.png","width":916,"height":264,"caption":"Nahdlatutturots Online"},"image":{"@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/nahdlatutturots"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#\/schema\/person\/5cc62e4ae84508c7b77ab27717ae6296","name":"Ahmad Karomi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/97e53788cbc02b3dfb70c55dfa569ba7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/97e53788cbc02b3dfb70c55dfa569ba7?s=96&d=mm&r=g","caption":"Ahmad Karomi"},"description":"Pegiat turots, sekarang tinggal di Surabaya","url":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/author\/karomi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2306"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2306\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2314,"href":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2306\/revisions\/2314"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2309"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nahdlatutturots.or.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}